Berikut ini adalah kumpulan sajak-sajak pendek terbaru dengan kosakata halus tapi memiliki makna kasar. Sajak kasar ini cocok buat kamu yang ingin menyindir mantan. | Sajak Kasar by Pesulap Kata. 

“Gejolak hati ingin kau pergi, menjauhlah taktak usah kau kembali. Pintu hati ini telah terkunci. Pengkhianat cinta tak pantas diberi toleransi” — Deyde Pk

“Setia itu mahal. Bukan sembarang orang dapat memilikinya. Jika cinta hanya soal bercinta, pelacur ahlinya” — Deyde PK

“Nyatanya, hujan lebih baik daripada kamu. Dia datang dan pergi dengan memberi tanda, tidak sepertimu yang melakukan semuanya dengan tiba-tiba”  — Esteh Manis

“Kalian bukan tuhan. Tak berhak mendifinisikan. Kalian bukan tuhan. Tak berhak akan penghakiman. Sajakku, rasaku. Bukan urusanmu” — Tanpa nama

“Pada akhirnya, kau hanya sekuntum mawar yang terlepas dari dahannya, yang kemudian jatuh ke tepian sungai; tak berarti”  — Ar Pk

“Ku rampungkan kau sebagai kenangan, sebagai cendramata masalalu. Dan ku tafsirkan kau dalam hati sebagai pecundang sejati” — Deyde PK

“Bisikan angin malam ini telah membuatku marah tak terkendali. Suara-suara angkuh nan egois layaknya sang bidadari yang memaksaku untuk meninggalkannya esok hari”   —Ar Pk

“Tak jarang kau berburuk sangka, anggap cintaku bual saja. Lalu apakah harus kusayat raga?. Agar kau percaya?” — SP Tanpa Nama

“Dengarkan, cinta; Aku terima dustamu dengan seperangkat karma yang setimpal, di bayarkan tuhan. Amin!”  — Deyde Pk

“Aneh memang. Kala ngambek heboh, layaknya gempa. Atau paling tidak beku, seperti es batu” — Ar Pk

“Aku mencintaimu, tapi kamu tidak! Aku yang salah, apa kamu telah membuat tuhan marah?!” — FFF

“Cintamu; kepura-puraan yang dalam bungkusan hitam, angin malam yang ditiupkan setan” — Deyde Pk

“Pada saatnya nanti, ku kan mendoaakanmu dengan segala yang baik. Begitupula kau, tanpa harus melunasi segala dendam yang purba” — Ar Pk

“Lalu apakah kuberhenti di kamu?. Katamu; Meninggalkan untuk menunggalkan”  — SP Tanpa Nama

“Dan mencintaimu, seperti menyulam kabut dalam musim semi. Menyusui gelombang yang angkuh, injak rapuh peluhku”  — Deyde Pk

“Jika katamu aku aku pecundang, maka bagiku kamu adalah jalang. Adil, kan!”  — Deyde Pk

“Cinta memang abadi: meski khianat menjadi kiamat di dadamu, ia tetap menciptakan bumi yang cantik sebagai dunia nya sendiri”  — Edy 

“Buang saja mukamu. Kau tak tau cara bermain kata. Sebab; hobimu adalah bermain rasa”  — Deyde Pk

“Tak usah kau malu. Sapa aku jika kau mau. Tapi sekarang aku tak mau diganggu”  — Ar Pk

“Tak apa, sebab cinta tak memilih untuk dipilih, meski waktu tetap saja menangisi airmatamu” — Deyde Pk

“Dan Mengutukmu adalah bagian penting yang ku sembunyikan, sebab kamu adalah pecundang terbaik yang tuha kenalkan”  — Ar Pk

“Kemarilah! Bacakan aku satu puisi. bukan maksud mengajakmu kembali, hanya saja, aku mau kamu MATI dalam sajak ini”  — Ar Pk

“Meriang, meriang, aku meriang! Kau yang panas di kening, kau yang dingin di kenang”  — Aan Mansyur

“Aku yang kejam apa kamu yang pecundang? Coba lihat, kau culik Sinta diam-diam” — Deyde Pk

“Tak usah berpura-pura, malam itu telah menelanjangimu; aku yang maksa, tapi kau juga menikmatinya” — Ar Pk

“Banyak yang kita tinggal, termasuk juga kenangan. Ternyata kamu juga seorang pecundang” — Deyde Pk

“Aku heran pada mentari, ia tetap bersinar meski terbentangkan awan hitam. Namun aku lebih heran pada mereka para penjahat hati, ternyata mereka banyak yang tersindir dengan untaian sajak2 kasar, walau itu hanya sekedar khayal”— Cindy

Demikian artikel tentang sajak-sajak kasar yang di rangkum oleh PesulapKata.com. Jika kalian suka dengan artikel ini, silahkan jangan sungkam-sumkan untuk bantu share, ya. Jangan lupa link sumbernya di ikut sertakan. 

5 KOMENTAR

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here