Pesulap Kata – Berikut ini adalah kumpulan puisi cinta dan kehidupan terbaru paling bagus sepanjang masa. Puisi ini sangat ekslusif untuk pembaca setia pesulapkata.com. Selamat membaca dan semoga kalian suka dengan puisinya.

kemana lagi aku akan pergi

Kemana lagi aku akan pergi
seluruh rasa yang pernah tersandra kini hanyalah sebatas angan yang tersapu habis saat malam bising oleh deru langkah angin

aku hanyalah aku yang tersusun dan tersisihkan oleh luka luka paling dalam

namun bersembunyi di balik tawa tawa paling Liar

entahlah aku tak mengerti
hanya saja setiap denyut hempaskan nadi tersenandungkan dengan pasti gejolak nada yang tersisa,

kemana lagi kaki ini hendak goyangkan langkah
pisahkan sejauh jauh nya antara jarak dan rindu
hendak mengubur harmonisasi keduanya

karena di setiap deret cerita pasti mendarat berdraf draf derita yang sulit diceritakan

entahlah, rasa bingung kali ini lebih tau kemana arah menghilang dari daftar pergi

tersesat ingin pulang

sedang waktu dan ruang masih memaksa jiwa tandu ini berpetualang

memaksa yang belum terbiasa hanya menyisakan beban yang amat berat

ke mana lagi ?

sedang hujan tak lagi berbunyi
deras nya terkikis oleh semua kenangan yang bergenangan mengintip masa kapan waktu itu akan datang

waktu dimana kita dibisikkan janji janji kebaikan kedepan

yakin dan optimis memang sedang di sini
namun kepala yang masih menengok kebelakang
membuat semuanya buyar kesempatan tersumbat tenggelam

bukannya aku pilih pilih
bukannya aku selalu menagih

karena hujan menjenguk kadang
tanpa mendung harus datang

sedang kita terlalu lelah dengan terik yang panas membakar

antara gerah dan rintik saat itu tak lagi berbeda, samar, tertukar, padahal rasanya jauh tak sama

kapan biasanya datang pun berbeda.

aku disini
kehilangan arah untuk pergi
kehilangan tempat untuk kembali

diam di pojok sepi menikmati semuanya sendiri

pagi menjenguk ku,
saat tubuh ku terkapar,
mulut tersingkap,
dikamar yang sempit dan pengap.

Mau bagaimana lagi
terlalu lelah untuk memulai yang segala

mengakhiri seluruh semua
nyilu begitu terang menyala
di seluruh raga ini yang takluk di bukit ragu
jujur kali ini penuh semoga pada
seluruh bekas sisa arah
ke mana lagi ku mulai melangkah

kapan pulang

kapan pulang
sembari menjenguk ku di sini
tak perlu bawa oleh oleh
kedatangan mu adalah segalanya
bagi ku yang tak mengharap lebih

pergi mu adalah gerhana
di pagi paling istimewa bagi ku

tidak ada luka tidak ada sedih di hati

hati ini kokoh terjamin
kau tak perlu risaukan itu

hanya saja
begitu banyak rahasia di setiap apa yang ku puisikan

karena mengutarakannya aku kaku

puisi hanya jasad
rohnya adalah kamu

kepergian mu membuat begitu banyak jasad puisi disini

buat ia hidup , kumohon.
jemput jasad ini

biar ia bersama mu
bersama ku hanya menambah ragu
sesak beruntun lama

kapan pulang
sejak kamu pergi tidak ada yang ku sesalkan
kecuali seluruh waktu ku
termangu dalam penantian panjang

bagaimana mungkin

di mata mu
aku menyalakan mati lampu ku

raut yang tergurat rapi
memaksa pucuk pucuk dedaunan
agar terdiam membeku

rambut tergerai
senyum tergeletak
aku bisu

bagaimana mungkin ?

riak yang berarak di sungai dan batu
lantunkan nyanyi bersama tanpa ragu

aku meratap tertipu
tertiup kekerdilan rasa angkuh
yang hanya bisa bergumam

tidak ada yang pasti
adalah kepastian
kepastian untuk tidak berani mengungkapkan

bagaimana mungkin ?
sedang ombak dan karang
buat lagu baru habis begadang

lidah ku berantakan
ludahkan keputus_asaan

rasa pesimis dan pecundang
bagi bagi sesal susulan

aku terkapar dalam seduhan manis dan pahit
yang tak mampu ku tuang

ke hadapan mu aku terombang ambing rasa bimbang

bagaimana mungkin ?
di teras
deras hujan merobek sunyi
tanpa gengsi

permalukan aku yang diam
dalam kekecewaan amat dalam

aku takut kau akan bosan
terlalu lama menunggu
memerlukan begitu banyak tenaga dan rasa sabar

sedang aku mencari berbagai cara
agar ada jalan yang berbeda
untuk tujuan yang sama

sepertinya kita satu sama menunggu
lah ,
bagaimana
mungkin aku
baru sadar
Itu

Entah

Entah belahan bumi yang mana
Debur ombaknya rayu karang ku

Entah belahan bumi yang mana
Kilau Mutiara nya sirami kerangku

Entah belahan bumi yang mana
Kicau burungnya temani tawa ku

Entah belahan bumi yang mana
Sepoi anginnya acak rambut ku

Entah belahan bumi yang mana
Deras hujannya payungi gerimisku

Entah belahan bumi yang mana
Nafas subuhnya basahkan pagi ku

Belahan bumi yang mana, entahlah
Badai ku karam diatas lautnya

Belahan bumi yang mana, entahlah
Pelangiku telanjang di bawah langitnya

Belahan bumi yang mana, entahlah
Purnama ku terbaring luka didalam gerhananya

Belahan bumi yang mana,
Entahlah
Bukan saatnya aku bertanya.

Perpaduan

Bulan berpadu dengan lampu
Suguhkan panorama malam

Hujan berpadu dengan tanah
Hidangkan mekar bunga di taman

Kopi berpadu dengan gula
Sisakan nikmat dalam seduhan

Angin berpadu dengan dedaunan
Lukis tawa dalam riak sungai

Aku berpadu dengan siapa ?
Sedang kamu putih
Aku hitam

Sampai kapan kamu tetap putih
Dan aku tak lagi hitam

Kita berpadu
Dalam perbedaan

Hujan yang aneh

Ada yang aneh dengan hujan
Di setiap rintik yang jatuh
Kau tak akan mampu bersembunyi
Dari setiap bunyi dan riuhnya

Meski kau sengaja
Menguburkan diri dalam ramai
Telinga kita mulai akrab
Dengan sapaannya meski kasar

Ada yang aneh dengan hujan
Di setiap rintik yang tumpah
Kau tak akan mampu lagi menghindar

Untuk berlari maupun menari
Dalam pelukan dingin dan basahnya

Meski kau sengaja
Menjebloskan diri dalam panas api

Namun
Mengapa kita harus bersembunyi
Maupun menghindar

Sedang hujan pasti datang
Membawa serantang pelangi
Yang masih segar

Kemarau berkemah

Disini langit
Menghujani bumi dengan debu
Yang menghembuskan panas, dan
Kering tersangkut di tenggorakan

Panas, angin dan debu
Bersenggama di bolong hari
Di bawah terik matahari

Pepohonan kehilangan nyali
Untuk digunakan berteduh
Karena dahan dan daunnya
Tak lagi membungkus sejuk

Sungai tak lagi berteriak dengan riaknya
Embun tak lagi lama bergurau

Sedang yang kami tunggu
Adalah ludahan janji
Yang masih mengunyah bukti

Meski sepenuh diri
Aku sadari

Di kedalaman hati ini
Tidak ada panas, angin dan debu

Namun kemarau
Lebih kerasan lagi berkemah

Andai pagi

Pagi ini
Embun menuruni ku
Hingga kering

Sisakan dingin yang berdesakan
Candai nafasku

Masih sepetang ini
Sawah masih tak terjamah

Rumput masih basah tak berdaya

Dari kegelapan ku lihat
Cahaya matahari mendekat
Ledakkkan pekat

Dengan tenangnya
Pagi melukis angkasa
Hembuskan awan putih berarakan

Benar benar cerah
Pagi kali ini, meski

Dalam langit dadaku
Malam masih nyalakan pekatnya

Embun menjelma badai
Matahari hangus sendiri

Andai saja aku pagi
Tak akan begini , pasti

Resah di pagi yang basah

Nafas tertarik menyambung
Tali silaturahim dengan alam

Embun mengadu dingin
Terik meniup angin

Ada yang segala berupaya
Jenguk kedalam suasan tubuh
Yang menelan perih
Tanpa harus mengaduh

Tawa butakan ruang pandang
Hingga sesak meniduriku panjang

Pagi kali ini benar benar berbeda
Mata tertutup rapat

Ngantuk tak lagi mau mendekat
Semua petualangan terasa hidup
Terbang tanpa di tarik
Melayang tanpa di ulur
Jarak tanpa di ukur

Dalam jujur aku berdoa

Kenyamanan tak selamanya
Menenangkan jiwa.

Aku ingin tidur
Kembalikan sisa sisa ngantuk
Yang kubunuh dengan hangat kopi
Tadi malam

Sebentar saja biar ramai kepala ini
Berhenti di tengah pesta

Aku tak perdulikan itu
Hasrat mengasingkan diri
Dari tubuh yang tak lagi teduh
Pada tempat tanpa waktu
Tak pernah ada jeda
Mengulang semua peristiwa

Terdampar dalam dengkur yang di sengaja
Dalam jujur
Aku kembali meminta

Nyalakan tenang meski gelap
Karena di terang cahaya aku lebih sering tersesat.

Depresi malam kemaren

Dibawah atap malam
Aku menulis

Gaduh
Disini aku gaduh

Bersama sepi
Aku ramai sendiri

Tanah retak
Melukis jejak

Ke laut aku berlari, belajar menyanyi
Senandungkan kicau asmara
Atau hanya sekedar narasi

Namun di tengah konser
Perahu yang kubawa berlayar oleng

Kekanan kekiri
Samping kesamping

Aku memaksakan diri
Menghadapinya sendiri

Nafas terhenti
Degup jantung berlari

Tenggelam saja!
Tenggelam saja!

Dari jauh
Ajal bersorak ria
Menjamin pada peluk dingin tubuhnya

Aku hampir saja terbawa
Hampir saja tergoda

Manis janjinya
Obati pahit ragu ku

Kali ini ku akui benar kalah
Ombak yang berlapis
Bentur karang tanpa lelah
Aku tertunduk tangis
Sirami gersang hati hingga basah

Namun di luar naskah
Ada cahaya datang

Ibuku, ibuku
Ayah ku, ayah ku

Hanya untukku, hanya untukku

Mereka rela menunggu kehujanan
Payungi dingin dengan senyuman
Deras doanya
Menenangkan lautan

Sekarang aku sadar
Entah sekarang atau kapan

Mereka tak pernah main main
Soal kasih sayang

Cermin

Di depan cermin
Aku melihat

Garis kerut yang berkarat
Dan peci yang tersangkut diatas kepala
Didalamnya tak lagi ada

Karena dari sekian indera
Hanya mata yang mampu
Menyentuh dan meraba
Pada kedalaman cermin
Yang memantulkan maya

Sekali lagi aku bercermin
Namun bukan dengan mata
Tapi untuk hati yang mati
Yang seterang apapun cahaya

Tak akan mampu menangkap apa
Di dalam gelapnya

Tanpa doa

Hampa

Ingin yang berangan angin
Letih dibuat latah

Oleh daun yang berdahan pintu

Reot oleh, semilir
Angin yang berangan angin

Tak semata untuk mati
Egonya!
Agar pagar diri dari duri itu
Cari

Cara

Curi
Ciri ciri
Curang tak jatuh ke jurang
Padahal
Hampa_nya menghamba pada
Himpunan kata
Yang pecahkan kaca

Demikian artikel Puisi Cinta dan Kehidupan Yang dirangkum oleh PesulapKata.com. Silahkan bantu share artikel ini agar mimin gencar membuat puisi-puisi nan apik lainnya.

Tinggalkan komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here