Jangan Ada Lagi

Sudahlah, tak usah di perpanjang lagi. Biarlah semua berlalu dengan sendu. Jangan ada lagi, walau hanya percikannya.

Jangan menyesali apapun, cukup berangkat dari apa yang ada saja. Setelah itu jangan menyesali apa yang ada, cukup berangkat dari apapun, lagI. Saat namamu tak lagi kuucapkan terbata-bata dalam doaku, mungkin itu karena aku telah berhenti memperjuangkanmu dalam jerih payah. Itulah saatnya kamu harus ketahui, kamu bukan lagi siapa-siapa.

Kita selalu punya pilihan untuk melangkah dan menyerah. Tetapi, pilihan itu terasa kabur di depan mata. Karena bagaimanapun kejadiannya bertahan tetap terasa lebih indah. Walaupun hanya luka yang ada. Karena apa? Karena kita tidak pernah sanggup melepaskan apa yang sudah ada ditangan kita.

Tembok ini ingin bicara kasar ketika kepala ku bentur tak menentu. Lantai ini semakin merasa kotor saat ku tapaki dengan rasa bangga. Udara dingin mulai merajut ilusi, antara aku, kamu, dan dia. — Dhany

Sajak-sajakmu terlihat seperti sedang memadu cinta ,bahkan penamu terlihat berbeda. Kertasmu yang dulu berwarna putih cerah ,tergantikan kuning kasar yang menambah kesan gembira.

Lalu bedanya apa ? Dengan dulu waktu kau datang meninggalkan asa cerah dimatanya. — Diovaldy

Bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan? Sebuah pertanyaan yang tak aku sampaikan. Karena mungkin kamu sendiri sudah menjelaskan isi hari ini kepadanya. — Ehadaojan

Aku tidak pernah takut, jika suatu saat kita berbeda kota atau negara. Aku hanya takut, disuatu saat diwaktu yang tak di sengaja, kita bertemu kemudian bertatap mata, namun tatapan matamu seolah tak mengenalku. Bagiku, itu ialah sejauh-jauhnya jarak. — Api Ary Faozan

Berlayarlah kembali, Tuan. Pergilah ke langit yang katamu tak pernah goyah, pergilah pada samudra yang katamu membuat jarak diantara kira. — Aksara Arsa

Seberapa banyak apapun aku mengeluh kamu tidak pernah disini. Sebanyak apapun aku mencoba untuk memeluk mu kamu hanya akan melihat ku tanpa minat. Sebanyak apapun aku mencoba pada akhirnya aku hanya akan tetap disini, sendiri, dengan kenyataan aku tak bisa memilikimu. — Aksara Arsa

Kasih, yang menyapa bukan lagi kecup dari bibir kenyalmu lagi. Ia sudah berganti menjadi dinginnya udara kamar pukul tiga.

Berat rasanya jika dipikul, berat juga rasanya jika dibiarkan begitu saja, itu adalah kenangan dua insan yang pernah mencinta.

Selera humormu tingginya keterlaluan. Setelah sekian lama menjalin hubungan. Sampai akhirnya mendekati pelaminan. Dan kau bilang ini semua hanyalah permainan.

Jikalau ada yang kurang dariku, itu bukan karena kau tak mampu membendung ketidaksempurnaanku, itu karena waktu sudah mulai mencukupi pertemuan kita dan tak ada lagi kisah yang bisa kita berdua narasikan.

Ada candu pada kecupan manis di bibirmu. Seperti beradu tanpa menjamu resah. Kumohon Pris, biarkan sekali lagi kutulis sajak tentang indahmu. Jangan terus menari nari dikepalaku hanya untuk merebut perhatianku.

Mulut itu sudah cukup lelah berucap sajak dan pujian. Kini saatnya mulut itu untuk bungkam. Jangan ada lagi kata tercecer. Kecuali barisan doa-doa yang menghalalkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here