Pesulap KataHujan memang selalu memberikan nuansa nyaman tersendiri bagi para penyair, karena selain dingin dan menenangkan, juga bisa menjadi imajinasi yang paling menegangkan. Hujan Bulan Januari adalah kumpulan sajak pendek yang diambil sari kisah nyata penulis pada bulan yang sama. Selamat membaca dan semoga kalian bisa menikmati kata-katanya. 

Kita tak layak mengenis di hadapannya. Sebab nyatanya takdir tak pernah merestui adanya kita. Jika pun memaksa, hanya akan datang kuka dan meruaak semuanya. 

kelak, jika musim masih menyimpan perih kepergianmu aku akan membacamu sebagai sunyi, juga gemetar puisi yang lindap di atas dahan-dahan. 

Kita tertawa kecil sambil melihat angin yang mencium lembut dedaunan. Sementara dalam hati kita masih berbincang antara menyerah dan melawan arah. 

Daun-daun itu terlihat santai saat diterjang angin. Kita; bisakah kita menjadi sepertinya. Ah, tidak mungkin. Kita sama-sama egois dan tak mau mengalah. 

Aku takut membuka kotak kenangan dalam fikirku sendiri, rasanya selalu tertusuk lebih dalam dan pedih. – Devine

Pergilah kasih, jika bersama adalah apa yang di tuliskan takdir diantara kita, maka sejauh apapun kau diambil yang lain dariku, pada akhirnya kita kan bersama tanpa disangka-sangka.

Lihat; tulisanku datar seperti anak SD yang baru belajar ejaan. Begitupah sederhanya takdir yang memisahkan. Sesederhana itu bukan.

Lantas subuh pun tiba dengan segala hening, saat ziarah ke makam tunggalmu menyisakan riwayat yang membaca segala kealpaan

Aneh memang. Cara tuhan kadang segokil ini dalam mempermainkan mahluknya. Tepat hari ini, hujan di hari ulang tahunku, di sana; kau menjadi permaisuri merayakaan hari bahagianu. 

Bersama secangkir kopi aku kerap kali berdebat, tentang pahit siapa yang paling hebat, ampas bubuk kopi hitam pekat,  atau luka patah hatiku yang telah berkarat.

Katanya aku seseorang yang menyedihkan; merangkai sajak patah hati dan puisi tersakiti. Katanya juga aku sosok yang lemah sebab selalu bersembunyi dibalik aksara

Hujan itu sendu, hujan itu meragu. Pada kenangan dulu, kala cerita masih ada sosokmu. 

Lambat laun aku mulai menyukai hujan bukan kenangan tapi tentang kebahagiaan. 

Sajak pendek patah hati Hujan Bulan Januari

Terkadang kita hanya butuh kata yang meneduhkan, agar kemarahan dapat diredam, dendam dapat disiram, dan tangis dapat dihentikan. 

Untuk terbang, aku tak membutuhkan dua sayap, aku cukup mengingatmu, dan mengingat caramu tersenyum kepadaku. 

Yang memulai sejarah adalah ketika kau bertanaya siapa namaku dan aku bertanya siapa namamu, lalu jarum jampun berhenti. 

Takkan pernah merasa lelah, bahkan ketika aku menjelma kupu-kupu bersayap patah, akn tetap menerbangkn rindu untukmu. 

Ada yang ingin kurengkuh bersama hitamnya kopi yang kuseduh. Kekasih,yaitu bayangmu yang semakin keruh, semakin menjauh. 

Kebahagiaan susut, hanya ketiadaanmu saja; ampas kopi ini, gelap ingatan, dengan luka yang semakin malam. – Rena

Demikian sajak pendek Hujan Bulan Januari dari Pesulapkata.com – blog sajak pendek dan puisi paling lengkap dan sangat menyentuh hati yang membacanya. Jika kalian suka dengan sajak pendek tentan hujan di bulan januari silahkan bantu share ya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here