Di Matamu Itukah Tenang Segala Luka

Di matamu itukah tenang segala luka? Saat menatapnya saja hatiku sudah di bawa jauh ke nirwana. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu begitu saja, sementara kenyamanan bersemayam di dalamnya.

Kadang-kadang ada yang harus kita korbankan demi kebaikan. Entah itu hatiku, perasaanmu, atau kedua-duanya. 

Sepasang mempelai sedang duduk berdampingan di pelaminan. Mereka bergenggaman tangan, sementara hatinya memeluk masa lalu masing-masing.

Sesekali aku ingin melihat matamu luruh dengan tiba-tiba, saat aku membisikkan azdan di telinga bayi kita, misalnya. 

Yang terang di jalan antara malam dan pulang adalah ‘Kamu’

Yang bungkam dan menanti itu pula ‘Kamu’

Aku, habis sudah waktuku merebahkan cuap-cuap kopi dibalut tawa sana-sini

Bodohnya, tidak denganmu. Kamu di rumah, sendiri, menanti. 

Kata yang kita rangkai dengan indah,terkadang tak mampu untuk diterima dalam keindahannya. Padahal sederhana, mengucap penuh harap inginkan akhir bahagia. Namun nyata tak seindah mimpi, aku lupa untuk bangun kembali. Perihal kamu, harusnya tidak begini.

Berlaku seadanya dan mencintai sewajarnya, dengan cara yang sederhana tapi istimewa.” begitu katamu, bukan. 

Berat rasanya jika dipikul, berat juga rasanya jika dibiarkan begitu saja, itu adalah kenangan dua insan yang pernah mencinta.

Di matamu itukah tenang segala luka? Saat aku meneatapnya membuatku mudah untuk melupakan dirinya. 

Setiap tulisan akan ditemukan oleh pengemarnya masing-masing. Biarkan tulisan itu sendiri yang berkelana mencari hati-hati yang akan tersentuh darinya. 

Bersembunyi untuk menampakkan diri. Meski di sekeliling gelap dan hitam, akan tetap ada cahaya sebelum waktunya padam. Menuju malam yang hanya sementara, pagi esok hari datang kembali.

Katamu, aku hahyalah tamu yang tak tau malu? Tapi mengapa kau masih memberiku secangkir kopi, bukan menyuruhku pergi.

Mencintaimu; biarlah menjadi rahasia yang paling aku sembnyikan. Sebab do’a di sepertiga malam jauh lebih manjur dari ungkapan-ungkapan kosong.

Jika aku sudah mengetuknya, aku tidak akan pergi kemana-mana. Sampai kau benar-benar membuka pintunya lalu mempersilahkanku masuk atau kau membuka pintunya lalu mengusirku pergi.

Sesederhana cinta Layla, rasaku takkan pernah usang, sampai maut memperlihatkan batu nisan. 

Berita sebelumyaJangan Ada Lagi
Berita berikutnyaSepenggal Cerita Masa Lalu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here